MAKALAH
‘ULIL ILMI
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Keterampilan Belajar

Disusun
oleh :
|
No.
|
Nama
|
NIM
|
|
1
|
Widhiyarini
Pangestika
|
1610201190
|
|
2
|
Fitri
Astuti
|
1610201211
|
|
3
|
Adinda
Fadhilah
|
1610201209
|
|
4
|
Achmad
Syaefudin Zuhri
|
1610201219
|
|
5
|
Feryanta
Putra Utama
|
1610201159
|
|
6
|
Dwi
Ratna Purnamasari
|
1610201170
|
|
7
|
Hendri
|
1610201216
|
|
8
|
Nanda
Putri Oktaviani
|
1610201183
|
|
9
|
Royan
Fajar Agtrianto
|
1610201217
|
|
10
|
Fajar
|
161020
|
PROGAM PENDIDIKAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2016/2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayahnya kepada kita semua. Sehingga
saya bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridhonya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
rencana. Makalah ini kami beri judul “Ulil Ilmi”.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita
Revolusi Akbar Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat
yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada . selaku dosen pengajar mata kuliah Keterampilan Belajar, yang telah membimbing kami. Dan kepada semua pihak yang terlibat dalam
pembuatan makalah ini hingga selesai.
Kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya apabila dalam penulisan makalah ini
terdapat banyak kesalahan didalamnya.
Saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi tercapainya kesempurnaan
makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis umumnya dan khususnya bagi
pembaca. Amiiin...
Yogyakarta,
28 Oktober 2016
DAFTAR ISI
I.
HALAMAN JUDUL…………………………………………….I
II.
KATA PENGANTAR…………………………………………..II
III.
DAFTAR ISI……………………………………………………III
IV.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang……………………………………………….4
1.2 Rumusan
Masalah……………………………………………7
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………..7
V.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Ulil
Ilmi Dalam Al-Qur’an………………….………8
2.2 Karakteristik
Ulil Ilmi dalam Al-Qur’an…………………….11
VI.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ………………………………………….………14
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Al-Quran
diyakini oleh umat manusia sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar,
berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai
hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
nanti.Ajaran dan petunjuk al-Quran tersebut berkaitan dengan berbagai konsep
yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini
dan di akhirat kelak (Qardhawi, 1993: 11).
Ali
an Nadawi (1981: 77) mengatakan bahwa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw
disertai turunnya al-Quran sebagai bukti kenabiannya yang paling besar di saat
dunia dalam keadaan kacau-balau, segalanya jungkir balik, berantakan tak
beraturan bagai dilanda gempa yang dahsyat. Pada saat itu pula manusia
seakan-akan telah kehilangan kemausiaannya, tinggal sosok tubuh saja yang
menyembah batu, pohon, atau kali, atau benda lain yang bahkan tak berarti
apa-apa bagi dirinya sendiri.
Ketika menyikapi
persoalan hidup yang dihadapi oleh umat Islam saat ini banyak yang berpendapat
bahwa persoalan yang terbesar yang dihadapi oleh umat ini tidak lain ialah kekalahan
dalam gelanggang politik. Maka penyelesaian yang ditawarkan pun tak jauh dari
perkara berebut kekuasaan.
Namun ada sesuatu yang membuat penulis
tertarik ketika membaca kutipan Wan Mohd (2003: 177) yang mengutip perkataan
Syed Naquib al Attasdi mana beliau menyatakan bahwa persoalan kemunduran umat
Islam, perkara utamanya, bukanlah persoalan kekalahan di gelanggang kekuasaan.
Kemunduran umat sekarang ini disebabkan menyelempangnya ilmu yang dengan
demikian menyebabkan ketiadaan adab. Pandangan beliau tentang ketiadaan adab
dan kerusakan ilmu dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kebingungan dan kekeliruan persepsi
mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:
Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat
yang timbul dari butir pertama dan kedua adalah:
Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak
layak memimpin ummat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan
kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, yang sangat diperlukan dalam
kepemimpinan Islam. Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam butir
pertama di atas dan akan terus mengontrol permasalahan-permasalahan
sosial-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama
dengan mereka dan akan mendominasi berbagai sektor kehidupan.
Mengenai
kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan inilah, yang
mengharuskan seorang mahasiswa muslim tidak selayaknya hanya menjadi
“pengumpul” pengetahuan tanpa memiliki sikap terhadap yang telah diketahui.
Banyak di antara kita yang mengetahui banyak hal, akan tetapi tidak pernah tahu
untuk apa kita mengetahui pengetahuan itu. Sehingga menurut Qarni (2006: 267)
salah satu syarat mutlak sebuah keberhasilan dalam menguasai ilmu ialah adanya
spesialisasi ilmu di mana seseorang mengenali kemampuan dan keahlian yang dimiliki,
mengenai bidang yang sesuai dengan dirinya, kemudian mencurahkan segala
kemampuan dan waktu yang dimiliki untuk menekuni bidang tersebut.
Walaupun
spesialisasi itu sangat diperlukan sekali dalam keberhasilan memperoleh ilmu
pengetahuan dengan matang. Namun alangkah sedihnya kita, kalau kita hanya
menggeluti satu ilmu pengetahuan saja tanpa kita mempelajari bidang-bidang ilmu
pengetahuan yang lainnya sebagai contoh ketika seseorang hanya menguasai ilmu
gramatika bahasa saja, namun ia tidak mempelajari sosiolinguitik dan
psikolonguistik ialah dahulu ada seseorang yang ahli dalam ilmu bahasa
terperosok ke dalam jurang terus ada seseorang yang ingin menolongnya, namun
dikarenakan ada kata-kata dari si penolong yang agak keliru kalau ditinjau dari
segi kebahasaan lantas ia (si ahli bahasa) menegurnya untuk memperbaiki susunan
kata-kata si penolong.
Alangkah
malang sekali ia, bukannya ia diselamatkan oleh si penolong tersebut akan
tetapi ia malah dicampakkan begitu saja tanpa ditolong oleh si penolong tersebut
karena kalimat pembenaran yang diucapkan oleh si ahli gramatika bahasa itu
telah membuatnya tersinggung. Karena pada dasarnya kebanyakan manusia itu tidak
menyukai untuk dikritik apalagi kalau dalam keadaan genting seperti itu. Oleh
karena itu hendaknya kita mempelajari ilmu pengetahuan yang tidak hanya
berhubungan dengan keagamaan saja namun harus dipelajari pula berbagai
penemuan-penemuan yang ditemukan oleh para peneliti Barat, yang sebagaimana
telah kita ketahui bahwa orang-orang Barat dahulu pun mereka mempelajari hasil
penelitian-penelitian para ilmuwan Islam yang tidak hanya sebagai “pengumpul”
saja akan tetapi mereka pun lalu mengkaji dan membuat inovasi dengan ditimbang
berdasarkan cara pandang hidup mereka. Sehingga kita pun seharusnya menimbang
segala pengetahuan yang telah kita terima dengan pandangan hidup kita sendiri,
pandangan hidup Islam (Worldview of Islam, Mabda’ul Islam, ar ru’yatul Islam
lil Wujud).
Worldview,
menurut Alparslan Acikgence (dalam Fahmi Zarkasyi, 2004: 3) adalah asas bagi
setiap perilaku manusia termasuk aktivitas-aktivitas ilmiah dan teknologi.
Dengan demikian, segala pengetahuan yang muslim peroleh harus ditimbang dengan
worldview Islam. Seorang muslim tidak dapat menerima begitu saja apa yang
diajarkan atau dipelajarinya baik di bangku sekolah ataupun perkuliahan ataupun
yang lainnya. Namun kita haruslah bersikap kritis terhadapnya.
Di dalam Islam,
orang yang diberikan ilmu pengetahuan seringkali disebut sebagai ‘aalim (عالم)
atau ‘ulamaa (علماء).Kata ilmuini sebenarnya sudah menjadi sebuah kata dalam
bahasa Indonesia, bukan hanya sekedar dalam bahasa Arab, bahkan lebih dari itu
tercantum dalam Al Qur'an.Kata 'ilm dalam Al Qur'an diungkapkan sebanyak 105
kali, lebih banyak sedikit dari kata al-Dien (103 kali).Kata 'ilm dengan kata
jadiannya terungkap kurang lebih sebanyak 744 kali.Suherman (2012: 1-2) telah
memperincinya.
Penulis sangat tertarik akan sebutan
mengenai mereka itu dalam al Quran yang salah satunya ialah ‘uulul ‘ilmi (أولواالعلم).Adapun
kata ‘uulul ‘ilmi ini hanya diungkapkan satu kali saja yaitu dalam Q.S Ali
Imrân ayat 18. Di mana ayat ini berkenaan dengan kesaksian para malaikat serta
orang-orang yang berilmu bahwasannya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan
Allah SWT Yang Maha Adil.
Mengacu pada latar belakang pemikiran
tersebut, artikel ini mencoba untuk mengkaji konsep ‘uulul ‘ilmi beserta
karakteristiknya dalam al Quran melalui kajian semantikyaitu cabang linguistik
yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis
representasi lain. Sehingga dalam artikel ini penulis mencoba menganalisis
lafadznya terlebih dahulu lalu menjelaskan tafsiran makna kata tersebut dari
kitab-kitab tafsir maupun kamus-kamus bahasa Arab yang relevan dengan
pembahasan ini.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep Ulil Ilmi dalam Al-Qur’an ?
2.
Bagaimana Karakteristik Ulil Ilmi dalam Al-Qur’an ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui masalah konsep Ulil ilmi
dalam Al-Qur’an
2. Untuk Mengetahui Karakteristik Ulil Imi dalam
Al-Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep ‘Ulil Ilmi dalam Al- Qur’an
Secara bahasa, kata ûlû ((اولوا ini merupakan bentuk jamak dari âlun (آل) yang
bermakna keluarga, sahabat, pemilik, dan yang memiliki (Mukhtar, 2008: 141).
Kata ini senantiasa di-idhafat-kan dengan isim dhahir (kata yang nampak jelas),
seperti أولو الأحلام والنُّهى : yang memiliki akal sempurna serta mampu mencegahnya dari hal
yang tidak baik, أولو الأمر : pemegang kekuasaan,أولو الحل و العقد: para hakim yang memutuskan suatu perkara.
Kata ilmu itu tersendiri berasal dari asal kata
‘alima- ya’lamu yang bermakna ‘arafahu (mengetahui atau mengenalnya), adrakahu
(mencapainya), serta fahimahu (memahaminya secara mendalam) (Mukhtar, 2008:
1541). Sedangkan menurut pakar Alquran al-Ashfahani (tt: 127) bermakna
pengetahuan akan hakikat sesuatu.Adapun secara istilah kata ilmu berarti
sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset terhadap objek-objek
yang empiris; benar- tidaknya suatu teori sains (ilmu) ditentukan oleh logis-
tidaknya dan ada- tidaknya bukti empiris (Tafsir, 2011: 14). Sehingga ketika
ilmu itu tidak logis namun ada bukti empiris itu namanya pengetahuan khayal.
Sedangkan apabila ilmu itu logis namun tidak ada bukti empirisnya maka
dinamakan pengetahuan filsafat.
Ketika melihat pengertian ilmu yang ditawarkan oleh
Ahmad Tafsir di atas seakan-akan kita melihat bahwasannya ilmu yang ditawarkan
oleh alquran mengenai hal-hal yang bersifat ghaib serta tidak dapat dibuktikan
secara empiris maka ilmu itu namanya pengetahuan khayal. Salah satu contohnya
Q.S Fushilat ayat 53 sebagai berikut:
سَنُرِيهِمْ
آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ
الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga
jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.Tiadakah cukup bahwa
Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Ketika kita melihat lafad aayaatinaa disini banyak
terjemahan yang mengartikannya dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang ada di
segala penjuru bumi dan pada diri mereka. Namun ketika ilmu pengetahuan dan
teknologi semakin canggih terungkaplah bahwasannya di dalam diri kita itu terdapat ayat-ayat
Allah yaitu al quran itu tersendiri sebagaimana yang diungkap oleh Ahmad Khan (
dalam maqra MFQ) ketika beliau mengkodekan gen-gen pada intron (ruang yang
belum terkodekan dalam kromosom) yang dikodekannya dalam bentuk huruf
hijaiyyah. Adapun area intron yang pertama dikodekan olehnya ialah p38q dalam
kromosom 19, dan hasilnya subhanallah ialah rangkaian huruf-huruf dari ayat
pertama wahyu turun yaitu
اقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Sehingga yang tadinya ayat-ayat al Quran yang Allah
terangkan ada dalam diri kita itu dahulu ketika ayat itu disampaikan untuk
pertama kalinya kepada manusia yang hidup di zaman Rasulullah hanya berupa ilmu
yang belum bersifat empiris karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang mereka miliki, maka pada zaman sekarang dapat dibuktikan bahwasaannya
ayat-ayat itu tadi sudah bersifat empiris dan tidak hanya dalam bentuk khayalan
belaka. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya.
Selanjutnya dengan demikian secara bahasa kata ûlûl‘ilmi
ini dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki suatu jenis pengetahuan
manusiayang diperolehnya melalui riset terhadap objek- objek yang empiris
sehingga ia mengetahuinya secara mendalam sampai menemukan hakikat ilmu
tersebut.
Gabungan (idhafat) kedua kata tersebut yakni
ûlûl‘ilmi, di dalam al Quran terungkap hanya satu kali yaitu pada Q.S Ali-
Imrân ayat 18. Adapun ayatnya ialah sebagai berikut:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan.Para Malaikat
dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).tak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Secara bahasa, menurut Warson Munawwir (1997: 746)
makna syahida bermakna menghadiri, menyaksikan, memberikan kesaksian, mengakui,
mengetahui, serta bersumpah. Sehingga kata syahida dalam ayat ini sebagaimana
yang diungkapkan. oleh Mukhtar (2008: 1240) berarti telah mengetahui,
menetapkan, serta mengakui akan keesaan Allah Ta’âla (Mukhtar, 2008: 1240).
Secara I’rab yakni salah satu cabang ilmu nahwu
(dalam bahasa Indonesia sering dinamakan sintaksis) kedudukan kata syahida
sebagai fi’il madhi (kata kerja lampau). Sehingga kalau dikaji lebih mendalam
maka dapat ditafsirkan bahwasannya Allah Ta’ala sejak zaman azali (proses
penciptaan alam semesta ini berikut isinya) telah bersaksi serta menetapkan
bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Dia Yang Maha Adil. Atau
dengan kata lain bahwa sejak zaman azali, manusia (masih berupa janin, baik
nantinya ia akan menjadi orang yang berilmu ataupun tidak) seluruhnya mengakui
Allah sebagai Tuhan mereka, meskipun pada perkembangannya pada kehidupan dunia
terjadi penyimpangan dari pengakuannya itu. Hal inilah yang akan
dipertanggungjawabkannya pada hari kiamat, apakah dia tetap mengakui keesaan
Allah dalam kehidupan dunia atau mengingkarinya. Sebagaimana yang diungkapkan
oleh Allah Ta’ala dalam Q.S Al- A’raf [7]: 172
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi".
(kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",
Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al
Bukhari (tt: 100) dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah saw sebagai
berikut:
كُلُّ مَوْلُودٍ
يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ
“Semua anak yang dilahirkan, mereka dilahirkan atas
dasar fitrah (tauhidullah).Ibu bapaknyalah yang meyahudikan (menjadikan pemeluk
agama Yahudi), atau menasranikan (menjadikan pemeluk agama Nashrani), atau
memajusikan (menjadikan pemeluk agama Majusi).”
Sehingga orang yang berilmu tidak akan
mengingkarinya baik dari segi hukum maupun kenyataan. Karena sebagaimana yang
diungkapkan oleh Hasbie Ash Shidiqie (2011: 344) bahwa seluruh hukum penciptaan
alam berdiri atas dasar keadilan Allah. Dengan memperhatikan hukum- hukum alam
akan terbukalah bagi kita tentang keadilan Allah yakni dengan bukti adanya
kesatuan (keharmonisan) hukum-hukum alam. Hal ini juga diungkapkan oleh Quraish
Shihab (2002: 200) ketika beliau menafsirkan kata tafâwut pada ayat ketiga
dalam Q.S al Mulk, seraya berkata:
“Bahwa Allah menciptakan langit- bahkan seluruh
makhluk- dalam keadaan seimbang (adil) sebagai rahmat karena seandainya
ciptaan-Nya tidak seimbang, tentulah akan terjadi kekacauan antara yang satu
dan yang lainnya, dan ini pada gilirannya mengganggu kenyamanan hidup manusia
di pentas bumi ini.”
Selanjutnya mengenai kata ûlûl‘ilmi ini, Al Maraghi
(1946: 17) mengatakan bahwasannya orang yang berilmu ialah orang-orang yang
memiliki pembuktian dan mampu menjadikan argumentasinya sebagai sandaran orang
lain. Golongan seperti ini terdapat dalam umat ini dan umat-umat
sebelumnya.Sehingga Orang-orang berilmu ini semakin bertambah ilmunya, maka
bertambah pula kesaksiannya bahwa alam ini ada ber-Tuhan dan Tuhan ituhanya
satu, yaitu Allah dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah
makhluk-Nya belaka (Hamka, 2006: 179).
Kemudian dalam ayat ini terdapat hal yang sangat
menarik perhatian kita yaitu mengenai kedudukan mulia yang diberikan Tuhan
kepada ûlûl‘ilmi, yakni orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat
ini.Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali, bahwa tiada
Tuhan selain Allah, dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri, maka Tuhan pun
menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh
malaikat.Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang
berilmu. Artinya tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang yang menyediakan
akal dan pikirannya buat meyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di
langit, di laut dan di darat, di binatang, di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia
itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak kepada kesaksian yang murni,
bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah. Itulahpula sebabnya maka di dalam
surat Fathir (35 ayat 28) tersebut, bahwa yang bisa merasai takut kepada Allah
itu hanyalah ulama, yaitu ahli-ahli ilmu pengetahuan.
2.2 Karakteristik ‘Ulil Ilmi
Dalam Al – Qur’an
Karakteryang dalam bahasa arab sepadan dengan kata tha’biah (perangai,
pembawaan), khuluq (sifat yang telah mengakar kuat), serta khâshiyyah (sifat
yang tidak akan lepas serta yang dapat membedakannya dari yang lain). Sehingga
keseluruhan karakter ini dapat membentuk corak pemikiran serta perbuatannya
(Mukhtar, 2008: 652). Sedangkan karakteristik itu tersendiri dapat diartikan
sebagai sesuatu hal yang membedakannya dengan yang lain.
Di muka telah diuraikan bahwa dalam al Quran orang yang berilmu (ûlûl‘ilmi)
ialah seseorang yang memiliki suatu jenis pengetahuan manusia yang diperolehnya
melalui riset terhadap objek- objek yang empiris sehingga ia mengetahuinya
secara mendalam sampai menemukan hakikat ilmu tersebut.
Adapun mengenai karakteristik orang yang berilmu (ûlûl‘ilmi) dalam al Quran
ialah sebagai berikut:
Adanya perasaan takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana hal ini juga
diungkapkan oleh Sa’ûd al ‘Imâdi (tt: 187), Ibn Musthafa (tt: 491), Abbas Ahmad
(1419 H: 336), di mana mereka mengatakan bahwa rasa takut kepada Allah SWT
merupakan salah satu ciri orang yang berilmu. Mereka mengambil dalil Q.S Fathir
[35] ayat 28 sebagai berikut:
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan
binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Kata khasyat di sini menurut pakar al Quran, al Ashfahani (dalam Quraish
Shihab, 2002: 62) memiliki makna rasa takut yang disertai penghormatan yang
lahir akibat pengetahuan tentang objek. Dilihat dari kontek rangkaian
penyebutannya, ayat ini didahului dengan penyebutan tanda-tanda kekuasaan Allah
yang berupa turunnya hujan yang kemudian menghasilkan buah-buahan dengan
berbagai warna dan rasa, gunung yang berwarna-warni dan perbedaan warna yang
ada pada bintang dan manusia.Suatu hal yang mengisyaratkan tingginya nilai ilmu
yang didasari atas pengamatan terhadap alam. Sungguh benar apa yang pernah
dikatakan Albert Einstein (dalam Quraish Shihab, 1997: 171-172) setelah ia
melakukan penelitian mengenai berkembangnya alam semesta ini yang dikenal
dengan istilah “The Expanding Universe”, seraya berkata:
“Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan hati melebihi
saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya.Sekali pun rahasia
itu tidak terungkap, tetapi di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah
lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan
rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk
penghambaan.”
Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh al-Razi (1420 H: 236), seorang
pakar tafsir Alquran kenamaan.Ia mengomentari ayat di atas dengan mengatakan,
“Semakin dalam seseorang menyelami lautan ciptaan Tuhan semakin tahu ia akan
kebesaran dan keagungan-Nya.”
Mengetahui, mengakui, serta memiliki
keyakinan akan keesaan Allah Ta’ala. Karena ketika seseorang telah mengetahui
hakikat suatu objek penelitiannya akan berakhir dengan ungkapan “Tidaklah
Engkau ciptakan ini dengan sia-sia” lalu tertunduk mengakui akan kekuasaan
Allah SWT dan kebenaran yang dibawa oleh Nabi saw. Sebagai contoh ialah
penelitian Dr. Arther J. Alison, ketua Departemen electrical and electronic di
British University, yang dilakukandengan alat-alat elektronik selama 6 tahun
mengenai fenomena orang mati dan orang tidur, menunjukkan adanya sesuatu yang
keluar dari tubuh manusia ketika mati dan tidur. Pada orang mati, sesuatu itu
tidak kembali lagi, sedangkan pada orang yang tidur sesuatu itu kembali lagi.
Sebagai pemimpin lembaga parapsikologi dan spritualitas Inggris yang tertarik
dengan kajian agama dan filsafat, ia diundang menjadi pembicara pada sebuah
konferensi di Kairo. Dalam persiapan makalahnya, ia tertegun ketika membaca
terjemahan al Quran surat az Zumar [39] ayat 42 yang menyebutkan fenomena di
atas persis seperti hasil penelitiannya. Sehingga setelah selesai acara
tersebut dia mengucapkan dua kalimat syahadat lalu berganti nama menjadi
Abdullah Alison (LPTQ Jabar, 2011: 32).Senantiasa mengamalkan ilmunya dengan
ikhlas. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda:
“Manusia akan berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu. Yang
berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmu. Dan yang mengamalkannya
juga akan binasa kecuali mereka melakukannya dengan ikhlas.”
Namun hadis ini dikategorikan sebagai hadis palsu (mawdhû`) oleh para pakar
hadis.Misalnya oleh Ibn Darwisy (1997: 309), Al-Syaukani (1407 H: 257). Menurut
Ibn Darwisy, hadis ini disebut oleh al-Samarqandi dalam bukunya Tanbîh
al-Ghâfilîn, dan sangat diminati oleh para kaum sufi. Buku ini, masih
menurutnya, banyak dipenuhi dengan hadis-hadis mawdhû`. Kendati demikian
penulis tetap mengutipnya, tetapi tidak dengan keyakinan bahwa itu hadis Rasul, sebab kandungannya masih dapat ditolerir.
Demikianlah penjelasan mengenai konsep ûlûl‘ilmi dalam al Quran yang
penulis analisis melalui kajian semantik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ulil
Ilmi berarti bahwasannya orang yang berilmu ialah orang-orang yang memiliki
pembuktian dan mampu menjadikan argumentasinya sebagai sandaran orang lain.
Golongan seperti ini terdapat dalam umat ini dan umat-umat sebelumnya. Sehingga
Orang-orang berilmu ini semakin bertambah ilmunya, maka bertambah pula
kesaksiannya bahwa alam ini ada ber-Tuhan dan Tuhan ituhanya satu, yaitu Allah
dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhluk-Nya belaka.
Tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang yang menyediakan akal dan pikirannya
buat meyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan
di darat, di binatang, di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan
sampai juga, tidak dapat tidak kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak
ada Tuhan melainkan Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
Abbas, Abu Ahmad. 1419 H. Bahrul Madid fi Tafsiril
Quranil Majid.Kairo: Duktur Hasan
Abbas Zakki.
Al- Ashfahani, ar- Raghib. tt. Mu’jam
mufradat alfâzhul Quran.Beirut: Darul Fikr.
Al Bukhari. tt. Shaahihul Bukhari
jilid 2.Beirut: al Sya’bi.
Al Maraghi. 1946. Tafsir al
Maraghi jilid 3. Beirut: Darul Fikr.
Al Syaukani. 1407 H.Al-Fawâ`id
al-Majmû`ah fi al-Ahâdîts al-Mawdhû`ah jilid 1.Beirut : Al-Maktab
al-Islami.
Ali, Abul Hasan an Nadawi. 1981. Madza
khasiral ‘alam bi inhithatil muslimin cet. 9. Kairo: Maktabatul Iman.
Fahmi, Hamid Zarkasyi. 2004. Islam Sebagai Pandangan Hidup, dalam
Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam. Jakarta: Khairul
Bayan.
Hamka. 2006. Tafsir al Azhar
jilid 3. PT Pustaka Panjimas: Jakarta.
Hasbie, Muh. Ash-Shidiqie.2011. Tafsir
an-Nuur jilid 2.Jakarta: Cakrawala Press.
Ibn, Haq Musthafa.tt. Ruhul Bayan
jilid 10.Beirut: Darul Fikr.
Ibn, Muhammad Darwisy. 1997.Asnâ
al-Mathâlib fî Ahâdîts Mukhtalaf al-Marâtib jilid 1. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah.
LPTQ Jabar. 2011. Maqra Musabaqah
Fahmil Quran. Bandung: LPTQ Jabar: tidak diterbitkan.
Mukhtar, Ahmad. 2008. Mujam
Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah Jilid 1. Kairo: ‘Alamul Kuttub. 2008. Mujam
Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah Jilid 2. Kairo: ‘Alamul Kuttub.
Qardhawi, Yusuf. 1993. Syari’atul
Islam Shalihatun Li Tathbiiqi Likulli Zamanin Wa Makanin. Kairo: Darus
Shahwah.
Qarni, Aidh. 2006. Cahaya Zaman. Terj.
Mujiburrahman Subadi Dan Al Kattani Dari “Hakadza Hadatsana Zaman”. Depok:
Al Qalam.
Quraish, Muh. Shihab.2002. Tafsir
al Misbah vol 14.Jakarta: Lentera Hati.. 2002. Tafsir al Misbah vol 11.Jakarta:
Lentera Hati.. 1996. Mukjizat al
Quran. Bandung: Mizan.
Sa’ûd, Abu al ‘Imâdi. tt. Irsyadul ‘aqli Salim Ilaa Mazaya al Kitabil
Karim jilid 9. Beirut: Darul Ihyaut Turats.
Suherman, A. 2012.Diktat Psikolinguistik.Bandung: Jurusan Pendidikan
Bahasa Arab FPBS UPI: tidak diterbitkan.
Tafsir, Ahmad. 2011. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wan Mohd, Nor Wan Daud.2003.Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M
Naquib Al Attas, Terj. Hamid Fahmi Zarkasyi dkk. Bandung: Mizan.
Warson, Ahmad Munawwir. 1997. Kamus al Munawwir Arab- Indonesia
Terlengkap.Surabaya: Pustaka Progressif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar